Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan, sangat amat pelan, nyaris seperti berbisik, menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan.
Memang hanya langit, hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu
Barnabas, karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang
pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan, secercah cahaya pun
cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak, hanya bergerak,
tiada lain selain bergerak, ketika hanya dengan sudut matanya pun ia
tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. Ya, tangannya hanya
akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah
otak, apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat, berombongan
maupun terpisah dan tersesat, yang mana pun takkan lepas dari sambaran
tombaknya yang sebat.
